Monday, September 1, 2008

Ordo Pewarta (OP)

Ordo Pewarta – Ordo Praedicatorum – Ordo of Preachers, juga sering dikenal dengan nama Ordo Dominikan. Didirikan oleh Santo Dominikus de Guzman, di Perancis tahun 1216. Ordo ini didirikan dengan maksud memberantas ajaran sesat Albigens yang berkembang pesat di Eropa. Ajaran ini percaya akan adanya dua Tuhan: yang baik dan yang jahat. Ajaran ini menyebarkan kebencian akan materi dan juga sakramen. Materi dipandang sebagai sesuatu yang jahat dan berasal dari setan. Dengan pemikiran ini, para pemimpin mereka sungguh hidup bermati raga dan para pengikutnya diajar untuk menyiksa diri sendiri bahkan sampai mati. Bertolak belakang dengan para pemimpin Gereja saat itu yang kebanyakan hidup dalam kemewahan. Aliran sesat ini menarik simpati banyak rakyat kecil di Eropa. Kelompok ini semakin sulit diberantas karena pada saat itu, para Imam belum biasa berkotbah. Kotbah hanya diperbolehkan bagi para Uskup yang tentu jumlahnya terbatas.

Tergerak oleh keadaan Gereja saat itu, dan ditantang oleh kegagalan usaha-usaha yang telah dilakukan oleh banyak Imam, Dominikus berinisiatif untuk melakukan sesuatu yang baru, yakni membentuk kelompok imam yang boleh berkotbah di mana saja. Ia memandang perlu adanya para pengkotbah yang dipersiapkan dengan baik, disiplin dan mau hidup sederhana. Para Imam Dominikan diharapkan bisa menjadi pengkotbah yang dapat pergi kemanapun mereka dibutuhkan. Sejak awal, mereka berjuang untuk menyebarkan Sabda Kebenaran di tempat-tempat berbahaya dan penuh tantangan. Mereka juga diutus untuk menjawab tantangan hidup studi yang berkembang pesat di Eropa dengan bertumbuhnya universitas-universitas baru. Sejak awal didirikan, para imam Dominikan mengajar di berbagai pusat pendidikan di Eropa seperti Sorbonne, Oxford, Toulouse, Bologna, dll. Dalam usaha awal mengumpulkan para pengikut, terlebih dahulu Dominikus mendirikan biara untuk para suster pertapa, yang kebanyakan anggotanya adalah mereka yang ditobatkan dari ajaran sesat Albigens. Ia percaya bahwa melalui teladan dan doa terus menerus dari para kelompok suster ini akan lebih menolong misi pewartaan Sabda seperti yang dicita-citakannya.

Persaudaraan Pewarta
Hidup dalam persaudaraan sejati, “sehati dan sepikiran menuju Allah”, adalah tujan pertama hidup komunitas pengkotbah. Seperti komunitas para Rasul, komunitas pengkotbah berusaha menemukan Allah yang menang atas dosa dan maut secara bersama mewartakan kabar gembira ini pada umat-Nya. Hidup seorang Dominikan dikonsekrasikan untuk “berbicara dengan dan tentang Tuhan”. Oleh karena itu doa dan pewartaan bersama adalah bagian hidup sehari-hari seorang Dominikan. Dalam persaudaraan pengkotbah ini kasih Allah menjadi nyata, dan hal ini memperkuat komitmen untuk terus melayani Allah secara selibat. Hidup komunitas juga penting dalam usaha mencari kebenaran – yang adalah Allah sendiri – lewat studi. Studi menjadi kegiatan bersama, di mana tiap anggota yakin bahwa tidak ada seorangpun yang mempunyai monopoli atas kebenaran. Setiap anggota selalu dapat memberikan pencerahan pada yang lain. Karena itu, hidup Ordo selalu dibangun atas dasar musyawarah untuk mencari kebenaran bersama (Veritas).

Santo Dominikus juga melihat studi sebagai suatu bentuk spiritualitas. Sejak awal ia mengirimkan para pengikutnya yang pertama ke pusat-pusat studi Eropa untuk mewartakan Sabda sekaligus menimba ilmu. Ia mewajibkan para pengikutnya terus menerus mempelajari, mendalami dan mengimani Sabda. Hal ini dihidupi secara serius oleh para pengikutnya seperti Santo Tomas Aquinas, sebagai Doktor Gereja yang ajarannya selalu memperkaya refleksi teologi, Santo Raymundus Penyafort, pelindung para ahli hukum Gereja atau Santo Pius V, Paus yang mengemban tugas Konsili Trente. Di abad 20 ini, Ordo Dominikan melahirkan pemikir-pemikir Gereja yang memberi wawasan baru dalam hidup menggereja, seperti JM. Langrange yang mendirikan pusat studi Kitab Suci di Yerusalem, Anawati yang mempelopori dialog dengan Islam, atau Yves Congar yang menekankan pentingnya Roh Kudus dan peranan awan dalam Gereja.

Dalam perkembangan selanjutnya, spiritualitas studi ini dihidupi oleh para Dominikan (imam, bruder, suster kontemplatif / aktif dan awam) dengan cara yang lebih beragam. Selain menekankan pentingnya memperdalam ilmu-ilmu gerejawi, mereka juga terlibat dalam disiplin ilmu lainnya. Bidang sosial-politik diperkaya oleh kehadiran Bartolomeus de las Casas, yang menjad tokoh pembebasan perbudakan orang-orang Indian di Amerika Latin. Jejak mereka saat ini diikuti oleh banyak anggota Ordo lainnya termasuk Bapak Teologi Pembebasan, Gustavo Gutiérrez. Bidang ilmu pengetahuan alam diperkaya oleh kehadiran Santo Albertus Agung, ahli biologi dan zoologi yang kemudian diangkat sebagai santo pelindung para ahli ilmu pengetahuan alam. Dominikan juga bekerja dalam bidang kesenian. Beato Angelico, misalnya, adalah pelukis abad pertengahan yang karyanya masih dikagumi banyak seniman sampai saat ini. Tak ketinggalan pula Santa Katarina dari Siena, seorang mistikus dan reformer yang menyatukan Gereja. Seorang Dominikan, dengan demikian, diharapkan mampu menerapkan dan melihat relevansi Sabda dalam berbagai aspek kehidupan.

Santo Dominikus mendapat julukan, saudara yang selalu gembira. Walaupun ia mengalami tantangan yang amat banyak dengan nyawanya yang terancam, ia tetap penuh pengharapan. Ia demikian, karena melalui doa dan studinya, ia menemukan Allah bekerja secara nyata dalam hidup manusia. Doa dan studi menjadi mata air pengharapan dan kegembiraan baginya dan anggota Ordo.

Persaudaraan Pewarta yang dibangun dalam doa dan studi akhirnya harus mampu membuat seorang Dominikan menjadi pelayan umat Allah yang efektif. Ia diharapkan untuk terus “berkontemplasi dan membagikan buah kontemplasinya” (Contemplari et contemplata aliis tradere) inilah inti pewartaan Dominikan. Doa dan studi tidak boleh hanya berhenti demi keselamatan jiwa pribadi, tapi harus menjadi awal penyelamatan banyak jiwa. Oleh karena itu, hidup seorang Dominikan dikonsekrasikan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Ia harus mampu dan siap kemanapun diutus. Saat ini Dominikan hadir di 104 negara, yang terdiri dari kurang lebih para imam – 10.000, suster kontemplatif – 7000, Suster aktif – 51.000, dan Dominikan awam – 74.385

1 comment:

Chen Ma Sa said...

Mohon pencerahan untuk menjadi seorang Dominikan apakah ada batasan usia maksimum. Saya sudah lama tertarik kepada Ordo Pengkotbah/ Domikan tapi tidak tahu harus mencari tahu kemana dan kepada siapa saya harus bertanyan hingga pada akhirnya saya menemukan blog ini.
Mohon diperkenalkan kepada Imam OP untuk dapat kontak langsung dan lebih jauh.
Trimakasih
Romansa Tan.